Oleh: indramgl | 20 Agustus 2008

OSPEK ATAU KERJA?

Semenjak saya masuk ke Universitas Gadjah Mada yang diterima sebagai mahasiswa baru jurusan Ilmu Komunikasi tahun 2008, saya merasa bangga sekaligus menerima amanah yang saya rasa cukup berat untuk diri saya. Secara umum setiap mahasiswa baru pasti melewati kegiatan yang berlabel OSPEK dan berbagai macam nama yang sejenis dengan nama tersebut, namun seperti dengan kegiatan serupa sebelumnya mereka pasti memberikan berbagai macam tugas yang mungkin memang bermanfaat bagi kita di masa yang akan datang, namun apa yang akan saya lakukan apakah mendahulukan OSPEK yang sejatinya baru pra-kuliah itu, atau mencari uang untuk membiaya kuliah saya yang biayanya sangat mahal itu, saya sadar dengan keadaan keungan orang tua saya yang sangat terbatas. Sedangkan secara garis besar ospek membutuhkan biaya untuk dilaksanakan, seperti dengan adanya dress code pada jurusan saya, yang tentunya sangat memberatkan saya sebenarnya. Saya harus membeli baju baru sedangkan kebutuhan awal kuliah saya sangat tinggi sekali.

Banyak rumor yang mengatakan bahwa OSPEK itu wajib penting, dan berbagai hal yang lainnya, namun terdapat juga beberapa kontra-versi mengenai hal tersebut tidak terlalu penting karena tidak dibutuhkan kemudian, namun mengikuti OSPEK yang bakal membuat saya sangat capek karena harus masuk dari jam 6 pagi sampai dengan maksimal pukul 17 tentunya sangat menyita energi saya, dengan kegiatan yang hampir selama 12 jam itu saya masih harus bekerja satu shift selama 8 jam tentunya sangat tidak bijak apabila saya harus mengkuti 2 kegiatan tersebut.

Kalau saya analisa lebih lanjut, apabila saya mengikuti kegiatan OSPEK yang dilaksanakan selama 4 hari itu, saya harus kehilangan gaji saya selama 4 hari yang cukup lumayan besarnya. Memang secara akademik, saya akan mendapatkan teman, akrab dengan teman-teman, dan banyak hal yang lainnya, namun secara financial saya hancur untuk bulan depan. Apabila saya tidak mengikuti OSPEK tersebut selama 4 hari saya mendapatkan dukungan financial untuk bulan depan, namun saya tidak mendapatkan banyak teman diawal masa perkuliahan saya, selain itu saya tidak mengeluarkan biaya untuk mengikuti kegiatan OSPEK seperti pembuatan atribut, dan berbagai hal yang terkait dengan OSPEK. Jadi keputusan saya adalah tidak mengikuti OSPEK selama 4 hari berturut-turut.


Tanggapan

  1. ndra aq memaklimi keputusanmu tapi apakah keputusanmu sudah dibicarakan dengan ortumu.bukannya aq sok intervensi ttp apakah nggak sayang kan di ospek bs kenalan dgn bnyk cewek n sarana untuk sosialisasi!!!!!!!!!!!!

    Nggak papa nang, aku nggak masalah nek ada temen yang bisa ngasih saran ke aku. Malah terima kasih, untuk masalah kerja itu semua sudah dibicarakan dengan orang tua dan orang tuaku pun menyetujui, tidak ada masalah dan aku tidak ikut ospek pun itu atas restu dari orang tua. Untuk masalah kenalan dengan cewek, aku yakin koq nang itu bisa dilakukan perlahan-lahan nggak hanya momen OSPEK saja, saya percaya bahwa yang diatas akan memberikan jalan kepadaku untuk masalah-masalah seperti ini. Walaupun hasrat untuk punya seorang cewek itu sangat besar, dan mempunyai seorang cewek disampingku untuk mencegah berbagai macam hal negatif, sharing, sarana kontrol, tapi kesabaran Insya Allah akan ada buah yang bisa kita petik kemudian, dan saya yakin akan hal itu. Untuk masalah sosialisasi itu juga dapat saya lakukan secara perlahan-lahan, saya dinilai sebagai orang apapun tidak masalah asal dapat meringankan beban orang tua, dan mereka juga dapat terbantu dengan apa yang aku lakukan. Thanks atas komennnya.

  2. [...] perlu saya jawab karena akan menghasilkan sebuah jawaban yang sama dengan kasus sebelumnya yaitu “Ospek atau Kerja?” dengan jawaban tentu saja tidak, kenapa? Karena saya harus membiayai kuliah saya yang tidak sedikit [...]


Beri tanggapan

Your response:

Kategori