Oleh: indramgl | 27 April 2008

Plus Minus Lembaga Bimbingan Belajar


Setiap siswa yang akan menempuh ujian akhir sering kali kebingungan menghadapi ujian tersebut sehingga mereka mengikuti bimbingan belajar di berbagai lembaga yang tersedia di daerahnya, tidak terkecuali dengan diri saya sendiri yang ikut bimbingan belajar karena takut akan ujian akhir nasional yang jumlahnya 6 mata pelajaran dan juga ujian masuk perguruaan tinggi. Ditinjau dari sisi yang lainnya sebenarnya saya salut dengan lembaga bimbingan belajar karena mereka sudah berpengalaman beberapa tahun menghadpi hal tersebut sehingga banyak prediksi dan latihan soal yang dapat kami ikuti, namun ternyata sistem yang terdapat pada lembaga bimbingan belajar itu terkadang pusat dengan cabang sangatlah berbeda hanya semacam meminjam nama saya, pelayanan yang mereka berikan pun terkadang jauh dari yang mereka promosikan di sekolah-sekolah brosur dan berbagai media yang memungkinkan. Terkadang juga saya sangat heran dengan lembaga bimbingan belajar yang mau menempatkan guru mata pelajaran berbohong untuk mengajar di lembaga bimbingan tersebut, dia pun sering sekali tidak tepat waktu mengaku berbagai macam hal namun ternyata setelah diselidiki semuanya hanya bohong belaka. Point yang terpenting ketika kita mengikuti lembaga bimbingan belajar adalah sebaik mungkin kita harus memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan, baik itu guru, modul pembelajaran, bimbingan dan konsultasi, dan berbagai hal yang lainnya.

Seperti pengalaman saya yang mengikuti lembaga bimbingan belajar yang cukup ternama di Kota Magelang, mereka menjanjikan berbagai macam hal di brosur dan promosi mereka di sekolahan waktu saya masih duduk dikelas XI, setelah saya naik ke kelas XII saya tentu saja tertarik dengan lembaga bimbingan tersebut dan masuk kedalamnya. Namun setelah beberapa bulan berlalu saya mulai mengetahui wajah asli dari lembaga bimbingan tersebut, mereka bukanlah lembaga amal, melainkan badan usaha yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk menarik hati para orang tua siswa yang menengah ke bawah mereka menawarkan sistem pembayaran dengan sistem angsuran yang tentunnya sangat membantu mereka mengurangi beban pembiayaan bimbingan anak mereka, namun ternyata beberapa fasilitas hanya tersedia untuk siswa yang telah lunas membayar, sebagai contoh mereka sering kali memberikan jaket eksklusif untuk siswa yang melakukan pembayaran sekali angsur atau “langsung lunas” tapi jika kita tinjau lebih lanjut, pihak siapakah yang diuntungkan dengan memberikan jaket tersebut? Pertama, jika kita tinjau dari segi ekonomi tentunya mereka sudah mempertimbangkan harga layanan yang mereka berikan plus layanan-layanan yang kemungkinan menjadi tambahan, seperti jaket tadi sebenarnya mereka sudah memasukkan harga jaket tersebut kedalam harga yang mereka ajukan kepada siswa, namun bukan siswa yang langsung membanyar lunas melainkan siswa yang mengangsur, hal ini dapat dibuktikan dengan harga diskon untuk siswa yang langsung melakukan pembayaran sekali angsur.


Sistem yang mereka terapkan sebenarnya cukup baik karena melakukan pembiayaan silang. Semakin banyak siswa yang membayar lunas mereka juga tentunya masih mendapatkan laba meskipun margin keuntungannya tidak begitu tinggi dibandingkan dengan sistem angsur. Kedua, jika kita tinjau dari segi politik mereka sudah melakukan langkah yang cukup baik, dengan mengkampanyekan lembaga mereka kepada seluruh pihak yang mungkin didatangi oleh siswa, namun siswa terkadang tidak sadar akan hal ini mereka justru menilai jika mereka mengenakan jaket tersebut mereka akan merasa lebih “keren” dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya yang tidak memakai jaket tersebut. Ketiga, jika kita tinjau dari segi marketing mereka juga sudah cukup baik melakukan promosi seperti ini, kenapa? Karena dengan adanya jaket seperti itu tentunya jumlah akan mempengarui ketertarikan dan kepercayaan lembaga tersebut, jika si pemakai tersebut nantinya sukses. Kemudian mereka juga memberikan pengumuman tentang adanya lembaga tersebut di kota “X”.

Kembali ke masalah awal, sebenarnya siswa tidak mempunyai hutang kepada pihak bimbingan kerena mereka belum memberika layanan kepada siswa tersebut secara keseluruhan, tapi tidak menutup kemungkinkan keikut sertaan dalam proses bimbingan tersebut akan semakin mengurangi piutang yang dimiliki, dan menambah hutang yang dimilikinya kepada pihak lembaga tersebut. Semoga saja ke depan ada lembaga yang dapat menutupi kekurangan tersebut. Demikian pandangan saya mengenai topik kali ini, mohon maaf atas kesalahan penulisan saya ucapkan terima kasih.


Tanggapan

  1. oke sipp

  2. terlalu emosiopnal kamu memaparkan tentang lembaga bimbingan belajar. sukses harus berkorban.
    bagaimana nasib para guru kita..
    ilmu mahal harganya.

    Itu kan pandangan pribadi wajar donk. Memang harus berkorban, saya setuju pada point itu. Nasib guru kita sekarang memang kurang, namun guru tidak sama dengan tentor di lembaga bimbingan belajar, memang terdapat beberapa guru yang merangkap sebagai tentor namun tidak semua tentor itu guru. Memang ada tentor yang profesional namun ada juga yang kurang profesional dalam menyampaikan materi mereka.

  3. well done….
    tnyata g cma aq yg bpndpt gt, aq s7 bgt ma kmu, lbb itu g sesuci yg dikira bxk orang…
    menurutku, kmu g tlalu emosional koq mnilai bimbel itu….tapi cuma terlalu naif kalo kamu mandangnya dari satu sisi aja….coba deh kamu pandang dari sisi bimbelnya….

    wepe-smansa-mgl

  4. Mungkin itu salah satu pengahargaan bagi peserta yang membayar penuh dimuka.
    Kalau pandangan saya, bagaimanapun juga program bimbingan belajar adalah bisnis jadi bagaimanapun strateginya ujung-ujungnya tetap mencari keuntungan.

    Setuju

  5. hmmm, pendapat yang berani. tapi pernah nggak kamu bermimpi ada lbb yang perfect seperti yang kamu mau? nah, so selanjutnya coba kamu bikin tulisan yang isinya lbb impianku. dengan begitu kamu juga sudah membantu berbagai pihak baik lbb maupun teman2 sekolah untuk peningkatan kualitas belajar kita… ok !!! chya yow !!!

    Ok mungkin kedepan saya bakalan bikin hal seperti itu. Terima kasih atas sarannya.

  6. tiap orang berhak b’pendapat
    yang pasti menurutku, kita prasangka baik aja lah, bahwa tiap bimbel, minimal punya niat yang baik buat bantu para pesertanya.
    Kalopun ada embel-2 pengen UPAH, ya wajar aja donk…asalkan proporsional
    lagian, hari gini masyarakat atopun siswa udah pada pinter milih bimbel yang tepat en professional
    Dukung terus pendidikan indonesia. Yoi coy…
    Piss…

    Ya, memang motif tersebut ada dan sering di iming-imingkan kepada kita. Namun, pada kenyataannya hal tersebut hanya normatif belaka tidak terdapat sebuah tindakan nyata didalamnya, memang terdapat beberapa yang benar-benar bersedia membantu tapi ada juga yang cuek. Memilih bimbingan belajar memang susah, karena itu hati-hatilah memilih bimbingan belajar, apalagi bimbingan belajar yang sifatnya massal.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori